Freeze Response (Pengalaman Melawan Diriku Sendiri)

 

 

Empat bulan bukan waktu yang sebentar untuk aku bisa sampai on the track lagi. Setelah aku keluar dari masalah yang tidak aku ekspetasikan akhirnya aku memutuskan resign dari kantor atas alasan semua kejadian itu telah berlalu dan aku pun harus mulai fokus dengan tugas akhirku. Rupanya ini perjalananku untuk melawan diriku sendiri.

Februari, akhirnya aku resmi sudah resign dari kantor. Pikiranku lumayan lega, karena merasa bebas dari 8 to 5 yang setara dengan pekerjaan 3 orang harus bisa terhandle oleh 1 orang. Di awal aku habiskan waktuku dengan hibernasi. 24/7 aku menghabisakan waktuku bersama kasur, akhirnya jam tidur aku mulai berantakan ditambah aku suka cit chat hingga pagi, jam tidur aku seperti kelelawar. Aku merasa bebas tapi di sisi lain aku merasa bersalah.

Maret, aku masih menjadi kelelawar ditambah di malam hari menjelang pagi aku selalu merasa aku memiliki banyak energi tapi di sisi lain badanku sudah merasa lelah, aku menyebutnya energi semu. Aku pun mulai sadar ada banyak tugas yang harus aku lakukan. Jujur, aku selalu merasa capek, malas, dan lelah. Kerjaanku hanya screening time 24/7.

Aku mulai mengisolasi diri, sampai aku bertanya pada temanku:

“Dari dulu aku ada kebiasaan untuk slow respon (fast biasanya ke orang yang memang lagi sering komunikasi aja) bahkan beberapa case aku sengaja untuk nggak balas dalam waktu cepat tapi rupanya kadang itu kelamaan bisa sampai satu minggu bahkan sebulan bahkan lebih. Pas kemarin teman magangku ada yang chat kalau dia mau wisuda dan aku bales setelah beberapa jam kemudian, jawaban dia nggak expect banget intinya dia senang karena aku balas karena dia kira aku nggak akan balas karena sibuk. Dari sini aku agak ngerasa bersalah, mungkin kalau pas aku beneran sibuk aku nggak ngerasa berasalah tapi posisi aku sekarang emang lagi gak sibuk-sibuk amat. Tingkat kemalasan aku pun meningkat akhir-akhir ini yang nyebabin buat balas pesan pun rasanya kayak harus ngasih effort buat ngetik, padahal "tinggal ngetik aja". Jadi apakah menunda membalas pesan itu salah satu cara mengisolasi diri juga?”

Karena memang banyak pesan yang masuk ke handphoneku bisanya aku akan balas satu hari hingga seminggu kedepan bahkan ada yang belum sempat terbalas. Rupanya itu bentuk dari cara aku mengisolasi diri.

Awalnya aku kira ini karena overwhelmed yang berujung ke procrastinasi. Tapi setelah aku coba untuk melakukan pendekatan diri rupanya ini bukan cuma procrastinasi, di sisi yang sama aku merasakan demotivasi, pressure, self blaming, ingin mengisolasi diri, nggak bisa berpikir jernih, sampai emotion empthy. Rasanya seperti aku nggak lagi berada di dalam tubuh, tetapi aku merasa melihat diriku sendiri dari luar.

April, aku mulai merasa aku sudah tertinggal jauh dan seperti ada yang salah. Akhirnya aku memulai memperbaiki jam tidurku. Mulai dari metode kesadaran hinggak punisment. Aku saat ini hanya fokus pada perbaikan pola tidur, untuk hal penting yang lain aku masih sisihkan. Di minggu pertama aku berlakukan restart jam tidur, jika aku begadang itu artinya aku harus bisa untuk menahan ngantuk di siang hari di sini aku masih memberlakukan kesadaran. Di minggu pertama ini lumayan berat. Hingga masuk ke minggu kedua aku merasa hanya modal kesadaran tidak cukup akhirnya aku jadikan waktu tidurku menjadi berharga, jika aku begadang maka aku akan transfer kepada satu teman kepercayaanku. Untuk awal-awal dalam seminggu bisa saja ada dua atau tiga hari aku masih begadang, tapi di bulan depan progresku lumayan bagus.

Mei, jam tidurku mulai membaik dan aku masih tetap melakukan pendekatan kepada diriku kadang aku pun masih merasakan demotivasi, pressure, self blaming, mengisolasi diri, nggak bisa berpikir jernih, hingga emotion empthy. Akhirnya aku mulai cari penyebabnya agar aku bisa on the track lagi, karena situasi seperti ini membuatku capek. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mendengar istilah Freeze Response. Aku memang tidak begitu mendalami terkait Freeze Response ini seperti apa, tapi dari apa yang aku rasakan aku merasa sepetinya aku sedang berada di fase ini. Salah satu caranya untuk aku keluar dari situasi Freeze Response adalah “AKSI”.

AKSI. Aku coba mulai berproses sedikit demi sedikit sekaligus aku pun analisis apa penyebab aku yang sering untuk merasa stuck. Satu hal yang saat itu aku lakukan adalah aku harus selalu apresiasi diriku sendiri setelah melakukan apapun yang membuatku merasa produktif. Aku mulai susun lagi outline skripsiku walaupun dalam waktu yang lumayan lama. Karena jujur, mungkin kalau aku back to 2022 untuk menyelesaikan outline yang beberapa halaman itu aku bisa saja selesai dalam semalam (karena aku pun dulu sempat open joki tugas). Memang situasi sekarang yang berbeda aku harus siap dan harus merangkak sedikit-sedikit. Di posisi ini aku pun merasakan insecure karena mengingat teman seangkatan sudah banyak yang wisuda Di posisi ini memang aku selalu pasang goals yang sifatnya 1% dalam sehari, agar aku tidak merasa terbebani, aku pun menghindari postingan selebrasi-selebrasi orang lain bukan karena aku tidak ikut bahagia tapi aku lebih baik mencegah diriku untuk mulai melakukan komparasi diri yang ujungnya tidak baik. Aku pun selalu yakin semua orang punya jalan hidupnya masing-masing yang penting aku terus bergerak.

Juni, aku untuk mulai adaptasi dengan semuanya. Sering aku merasakan overthingking di bulan ini. Aku mulai belajar lagi dealing emotion. Aku memang terkesan sering menangis di bulan ini karena aku hanya ingin release apa yang emosiku rasakan. Ketika aku feel overthingking aku akan melamun dalam waktu yang cukup lama ataupun aku akan menangis karena aku tau ini baik untukku karena dibandingkan ujungnya aku terkena anxiety yang rasanya berantakan. Aku pun mulai lagi untuk olahraga ringan yang bisa membuat stressku reda, mendengarkan musik yang bisa membuatku tenang, merasakan sunset di pantai, dan belajar lagi bagaimana cara mengatur emosi secara internal.

Juli, sekarang masih awal bulan aku masih berusaha melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri. Aku harap kedepannya semoga progressku terus berjalan, yang terpenting tetap melangkah sececil apapun itu.

Aku persembahkan tulisanku untuk diriku. Untuk diriku, apapun nanti rintangan yang akan kamu hadapi aku yakin kamu pasti bisa lewatin ini semua. Sekarang udah cukup untuk pandang dunia ini sebagai tempat yang berbahaya, dunia ini nggak semenyeramkan Hutan Amazon kok. Aku bangga padamu sudah bertahan sampai sejauh ini. Explore tempat yang belum kamu explore, cicipi makanan yang belum pernah kamu cicipi, atau sekedar jalan-jalan gak jelas yang bisa bikin kamu bahagia. Makasih ya sekali lagi udah terus berusaha :)

 

Ditulis ketika overthinking di pagi hari, 02 Juli 2024

Komentar

Postingan Populer